Konsistensi=Manajemen waktu

Sudah cukup lama saya tidak munulis apapun di blog ini. Padahal di awal membuat blog ini, 3 atau 4 tahun lalu, saya berniat untuk selalu menuliskan semua kegiatan yang saya lakukan yang utamanya berkaitan dengan pendidikan (pas masih kuliah), pekerjaan dan hal lain sehingga bisa berbagi dengan blogger lain dan mendapat feedback yang akan mencerahkan setiap langkah saya untuk lebih baik. Saya berharap blog ini menjadi media saya untuk selalu meningkatkan wawasan dan untuk selalu belajar dan belajar. Karena dengan belajar kita akan depat selalu mengikuti perkembanganyang terjadi di sekitar kita dan dibelahan bumi manapun.
Ada beberapa alasan kenapa saya terlena begitu lama tidak menggoreskan satu katapun di blog ini, yaitu :
pertama rutinitas pekerjaan yang volumenya bagi saya luar biasa sehingga saya terlupa dengan blog ini, kedua facebook…berfacebook ria membuat saya benar-benar untuk memanfaatkan waktu senggang untuk menjumpai temen-temen lama dengan jejaring ini. Bisa dikatakan tidak ada minggu tanpa membuka laman facebook…walau hanya 5 menit untuk menyapa sahabat dan untuk mengetahui kabar mereka.
Benar-benar tidak konsisten…maksudnya tidak bisa melakukan apa yang sudah diniatkan di awal..Sekarang saatnya untuk mulai lagi…mulai untuk belajar menulis dan berbagi…mulai untuk bisa konsisten menghiasi blog ini dengan berbagai rangkuman kata yang bermanfaat…mulai mengelola waktu, pikiran dan niat…sehingga benar-benar bisa konsisten…Semoga.

Lebih mudah Bicara daripada Berkarya….

Beberapa hari lalu, saya terlibat diskusi kecil-kecilan dengan beberapa “teman”. Tentu saja temanya sekitar pendidikan, lebih sempit lagi pendidikan di sekolah dasar. Menurut saya diskusi tersebut akan sangat menarik bila kita, yang berkecimpung langsung di dunia pendidikan, sama-sama menyadari bahwa segala permasalahan yang ada di pendidikan (yang menurut Bapak M. Nuh selaku Menteri Pendidikan Nasional, “Tidak akan pernah habis”, Jawa Pos, bulan Mei 2010, kalau tidak salah) harus dicarikan solusinya bersama-sama. Bukan justru hanya menuding atau menyalahkan institusi satu dan yang lainnya, ataupun selalu meng”korek-korek” kesalahan pihak lain.


Source:http://mikebm.files.wordpress.com
Diskusi itu jadi tidak menarik karena yang ada hanya “menyalahkan” orang lain dan “diri kitalah” yang paling benar. Tidak menarik lagi karena kesannya hanya “bisa bicara dan menuntut orang lain melakukan sesuatu ” tanpa kita mau berbuat sesuatu. Menurut saya, sudah bukan saatnya lagi kita hanya bicara dan bicara tanpa melakukan apapun. Sudah bukan jamannya lagi kita menunggu orang lain atau atasan kita untuk menuntun kita. Sudah bukan jamannya juga kita berteriak-teriak sekeras auman harimau tanpa do nothing. Bangsa ini akan tetap tinggal di tempat kalo kita tidak mau menyandarkan “ego” kita dan selalu memandang bahwa diri kitalah yang paling benar.

Sudah saatnya kita lebih banyak bekerja dan bekerja daripada hanya berbicara tanpa melakukan apapun. Sekecil apapun yang kita lakukan dalam usaha ikut serta memajukan pendidikan dan mencerdaskan anak-anak bangsa akan lebih berarti daripada kita hanya berpangku tangan menunggu orang lain yang mengerjakan. Dan alangkah cepat lajunya pendidikan kita jika kita mau bersama-sama bekerja keras, mau mengesampingkan ego kita, dan tidak selalu “negatif thingking” pada orang lain….karena memang lebih mudah bicara daripada bertindak….apalagi berkarya.
Wallahuallam……

Manajemen Sekolah

Hari ini, setelah seharian “jalan-jalan” ke beberapa sekolah dasar dalam rangka penilaian lomba gugus SD tingkat Kota, saya mencatat beberapa permasalahan yang ada. Berbagai macam “pertanyaan” ada di benak saya dan begitu sampai di kantor saya yang lumayan sejuk segera saya mencoba mencari jawabannya. Untuk sementara saya berasumsi bahwa “permasalahan” yang muncul dikarenakan masih lemahnya (kalau tidak mau dikatakan kurang…) dalam “memenej” sekolah. Bisa dikatakan bahwa manajemen sekolah merupakan kunci pokok dalam mengelola sekolah. Dan bicara soal manajemen maka tentu saja Kepala Sekolah memegang peranan yang penting.

Setelah “berkelana” di dunia maya akhirnya saya mendapat beberapa pencerahan dan salah satunya tulisan Bapak Munif Chatib (FB beliau sudah saya add …sehingga saya selalu dapat mengikuti tulisan beliau). Berikut adalah tulisan beliau …tentang Manajemen Sekolah.

Subject: TANDA-TANDA KEBANGKRUTAN SEKOLAH by Munif Chatib
TANDA-TANDA KEBANGKRUTAN SEKOLAH
By Munif Chatib

Dalam perkuliahan Guardian Angel (GA) di Surabaya, para mahasiswa yang berstatus beragam, mempunyai sebuah masalah yang cukup penting, yaitu tanda-tanda sekolah yang menuju kebangkrutan. Status mahasiswa beragam, ada yang menjabat sebagai direktur sekolah, kepala sekolah, pemilik sekolah, investor sekolah, litbang kurikulum sekolah, bahkan orangtua.

Saya berharap artikel ini dapat membantu memberikan pemahaman yang komprehensif terhadap institusi yang bernama sekolah. Semoga berguna bagi semua elemen sekolah, minimal dapat menghindari jangan sampai sekolah kita terperangkap dalam kondisi ‘decline’ atau menurun tanpa kita sadari. Juga usulan beberapa sahabat yang luar biasa yang mempunyai ide ‘gila’, yaitu jika 10 tahun ini, pekerjaan saya terbanyak adalah membina sekolah yang asalnya ‘pingsan’ menjadi ‘siuman’ dan ‘bangkit’ lagi, lantas bagaimana dengan sekolah-sekolah yang sudah sehat, ternyata menderita penyakit yang tidak disadarinya. Yang mana penyakit itu cepat lambat membawa sekolah tersebut menuju kebangkrutan kepercayaan dan kualitas.

Manajemen adalah jantung sekolah

Saya menganalogikan dalam institusi sekolah, apapun jenjangnya mempunyai jantung, yaitu manajemen sekolah. Dapat dibayangkan,jantung ini adalah pusat kehidupan, artinya manajemen ini menjadi unsur terpenting. Seorang investor bertanya kepada saya, langkah awal apa yang harus dilakukan untuk membangun sebuah sekolah. Dengan cepat saya menjawab, membentuk manajemen yang profesional. Setelah itu barulah hal-hal yang lain dapat dikerjakan. Jika manajemen sekolah sudah terbentuk, maka struktur di bawahnya yaitu pelaksana dapat dibentuk juga. Manajemen sekolah biasanya saya sebut CONTEXT SYSTEM sedangkan pelaksana CONTENT SYSTEM. Banyak analogi untuk kedua frase ini. Analogi CONTEXT sebagai piring dan CONTENT sebagai makanan yangtersedia di atas piring tersebut. Atau analogi seekor burung merpati putih yang mempunyai dua sayap untuk terbang. Sayap pertama adalah CONTEXT dan sayap kedua adalah CONTENT. Jika kedua sayap ini terbangnya bersamaan, bersatu padau, dan bekerja sama, maka burung ini akan terbang tinggi dan hinggap ditempat yang dituju.

Setelah terbentuk dua pihak, CONTENT dan CONTEXT, yang secara terstruktur atas dan bawah. Namun secara fungsi harus bersinergi, maka kewenangan dan tanggung jawab masing-masing dirumuskan. Kedua pihak harus sepakat dan saling menghormati wilayah kewenangan masing-masing. Intervensi kewenangan akan dengan mudah terlihat jika rumusan kesepakatan wewenang dan tugas itu dibuat tertulis. Yang penting diperhatikan sebagai manajemen atau CONTEXT harus menjadi pintu masuk segala arus informasi dan perubahan-perubahan dalam sekolah tersebut. Artinya pengambil kebijakan harus dipegang oleh manajemen. Mulai perekrutan dan seleksi guru dan karyawan, kebijakan keuangan,dan kebijakan membuat legal dokumen. Pertanyaan besarnya siapa saja yang menjadi CONTEXT dan CONTENT dalam institusi sekolah tersebut? Jawabnya beragam,tergantung kondisi.

1. Duet Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah

Ketua Yayasan sebagai CONTEXT dan Kepala Sekolah sebagai CONTENT. Struktur ini mungkin paling sederhana. Biasanya sekolah tersebut hanya memiliki satu jenjang pendidikan saja. Apakah TK, atau SD saja, atau jenjang lain. Ketua Yayasan mempunyai wewenang umum sebagai berikut:

* Merekrut Kepala Sekolah, guru dan karyawan(CONTEXT).
* Menentukan manajemen keuangan.
* Menandatangai Kesepakatan Kerja Bersama dan SKsebagai legalitas dokumen.
* Menentukan kebijakan global sekolah.

Sedangkan kepala sekolah sebagai pimpinan CONTENT bertanggungjawab terhadap pekerjaan struktur di bawahnya, yaitu para guru dan karyawan lainnya. Ketua yayasan seyogyanya tidak secara langsung intervensi kepada guru, sebab ada kepala sekolah. Demikian juga sebaliknya.

2. Duet Ketua Yayasan dan Direktur Sekolah

Ketua Yayasan sebagai CONTEXT dan Direkur Sekolah sebagai CONTENT. Struktur seperti ini biasanya jika sekolah mempunyai beberapa jenjang pendidikan. Seluruh jenjang dipimpin Direktur Sekolah, yang di bawahnya adalah para kepala sekolah masing-masing unit. Ketua yayasan seyogyanya tidak langsung intervensi kepada kepala sekolah atau bahkan guru. Kepala sekolah dan guru adalah tanggung jawab direktur sekolah.

3. Duet Direktur Sekolah dan Kepala Sekolah

Direktur Sekolah sebagai CONTEXT dan Kepala Sekolah sebagai CONTENT. Struktur ini biasanya terjadi pada sekolah yang yayasan sebagai pendiri menyerahkan total manajemen sekolah kepada orang yang berkompeten yaitu Direktur Sekolah dalam hal ini. Biasanya pengurus yayasan adalah orang-orang sibuk atau awam dalam pengelolaan dunia pendidikan. Direktur sebagai CONTEXT yang memberi laporan kepada Ketua Yayasan tentang perkembangan sekolahtersebut.

Nah ketiga matrik tersebut yang paling banyak terjadi pada struktur manajemen dunia pendidikan di Indonesia, terutama sekolah swasta. Namun yang banyak terjadi adalah ketidakjelasan pihak siapa sebagai CONTEXT dan CONTENT. Manajemen ini adalah pondasi bersirinya sebuah sekolah. Jika pondasinya sudah tidak jelas, maka akan berdampak negatif pada perkembangan sekolah selanjutnya. Terkadang sekolah yang sudah besar, namun lemah dalam hal manajemen di atas. Menurut saya hal ini sangat berbahaya. Bahkan banyak saya temukan di lapangan hubungan kerja antara direktur, kepala sekolah dan guru dengan yayasan tidak mempunyai legal dokumen secara tertulis.

Seorang sahabat sebagai kepala sekolah bilang kepada saya dengan tersenyum, “Kita pakai manajemen ikhlas pak Munif, gak pakai kontrak-kontrakan,apalagi CONTEXT dan CONTENT.”

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarkannya. Betapa sekolah sebenarnya adalah intitusi manajemen sumber manusia tingkat tinggi.Saya tidak dapat membayangkan bagaimana sekolah yang dibangun dengan pondasi manajemen yang amburadul.

Dari pengamatan saya, beberapa sekolah yang sudah jelas mempunyai struktur CONTEXT dan CONTENT masih juga menemui persoalan, yaitu intervensi yang tidak tepat. Pasangan duet antata Ketua Yayasan dan Direkturatau Direktur dengan Kepala Sekolah sering mendapat intervensi yang tidak pas secara fungsi. Biasanya intervensi itu datangnya dari atas, dalam hal ini Ketua Yayasan. Intervensi Ketua Yayasan dalam koridor untuk kebaikan manajemen sekolah sah-sah saja. Namun yang sering terjadi adalah intervensi dalam hal proses kerja. Contoh yang sering terjadi misalnya, pihak Yayasan langsung menginterupsi proses kerja guru, padahal di atasnya ada kepala sekolah dandirektur. Atau pihak yayasan intervensi langsung terhadap proses kerja kepala sekolah, padahal di atasnya ada direktur. Nah hal-hal semacam inilah jika tidak cepat diluruskan dan diselesaikan merupakan tanda-tanda kebangkrutan sebuah sekolah.

Semoga tulisan ini membantu banyak sekolah untuk menjadikan manajemen sekolah lebih baik. Amien.

………………………………………………….
Semoga bermanfaat…

Menjelang Akhir Semester I 2009/2010

Tidak terasa pertengahan bulan Desember sudah kita lewati. Untuk anak-anak Sekolah Dasar di Kota Madiun satu minggu lagi atau tepatnya tanggal 28, 29, 30, 31 Desember 2009 dan 2 Januari 2010 akan menghadapi Ulangan semester I. Setelah itu …libur pun tiba…. Libur semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 jatuh pada tanggal 25 sampai dengan 30 Januari 2010. Setelah melewati 127 hari efektif belajar…..anak-anak bisa berlibur untuk nantinya mendapatkan energi yang segar untuk belajar lagi…

Menyongsong UASBN 2009/2010

Kabar terbaru dari dunia pendidikan adalah jadwal UN 2010 untuk tingkat SMA/SMK dimajukan pada bulan Maret 2009. Hal ini secara otomatis tentunya akan berimbas pada jadwal UASBN 2010 jenjang SD/MI. Walau jadwal resmi untuk jenjang SD/MI belum keluar, namun Permendiknas tentang UASBN sudah ada yaitu Permendiknas Nomor 74 tahun 2009. Berikut adalah salinan resminya dapat di download disini

RPP Tematik

Selama ini saya menerima beberapa keluhan guru kelas awal (1,2,3) yang merasa sedikit kesulitan dalam menyusun RPP Tematik. Berikut ada contoh RPP tematik yang dapat didownload pada alamat website berikut ini:

Hasil UASBN Tahun Pelajafran 2008/2009

Siang tadi bertempat di Gedung Budaya Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kota Madiun, hasil UASBN dibagikan kepada para Kepala Sekolah Dasar / MI Negeri Swasta se Kota MAdiun. Untuk tahun ini dari jumlah rata-rat tingkat Kota memang mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun kemarin dan Alhamdulillah menduduki peringkat 5 besar Propinsi Jawa Timur. Tetapi jika dilihat dari rata-rata nilai per mapel ada yang naik dan ada juga yang turun. Dan yang cukup memprihatinkan nilai terendah tahun ini mengalami penurunan jika dibanding dengan tahun kemarin…yaitu 1,25 untu mapel Matematika.

Untuk Tingkat Kota rata-rata tertinggi jatuh pada SDN Kelun, kemudian MIN Demangan dan ketiga SDN 01 Klegen. Sedangakan pengumuman kelulusan untuk SD akan dilakukan serentak se Jawa Timur yaitu pada tanggal 20 Juni 2009 atau hari Sabtu.

Kewenangan kelulusan ada di sekolah dan nilai UASBN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk menentukan kelulusan. Harapan ke depan, semoga apa yang sudah dicapai sampai tahun ini dapat dievaluasi oleh pihak sekolah atau UPTD atau Dinas Pendidikan untuk digunakan sebagai bahan perbaikan kegiatan belajar mengajar tahun pelajaran baru.

Semoga ke depan nantinya dapat dibangun kerjasam yang saling menguntungkan…sehingga misi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat segera terwujud….Maju terus pantang mundur.